Rabu, 03 Februari 2010

TUGAS MANDIRI PENGANTAR MANAGEMENT

Nama : Otto Bernando
NIM :224309088
Kelas :S1-MTL B
TUGAS MANDIRI PENGANTAR MANAJEMEN

TUGAS MANDIRI
PENGANTAR MANAJEMEN


STMT TRISAKTI
DI SUSUN OLEH
OTTO BERNANDO
224309088

S1, MTL B
Manajemen Transportasi Laut
Sarinah S.Sos, MM
2009/2010



DAFTAR ISI
DAFTAR ISI……………………………………………………………………. 2
KATA PENGANTAR…………………………………………………………... 3
BAB 1 PENDAHULUAN……………………………………………………... 4
LATAR BELAKANG………………………………………………….. 5-7
PERUMUSAN MASALAH…………………………………………… 6-7
TUJUAN PERUSAHAAN……………………………………………. 7
BAB 2 PEMBAHASAN………………………...…………………………… 8-9
KEBAIKAN DAN KEBURUKAN…………………………………… 9-10
SOLUSI………………………………………………………………. 10
GAMBAR STRUKTUR ORGANISASI ……………………………... 11
DESKRIPSI JABATAN ……………………………………………... 12-15
DESKRIPSI WEWENANG…………………………………………… 15
BAB 3 KESIMPULAN……………………………………………………… 16
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………….. 17







Kata Pengantar
Pertama-tama saya ingin memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan bimbingan dan rahmat-Nya kepada saya sehingga makalah tersebut dapat saya selesaikan.
Dalam pembuatan makalah ini,saya buat bersama-sama. Dalam kesempatan ini, saya secara khusus ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Ibu Sarinah S.Sos atas pengajaran dan karya yang telah di berikannya untuk membantu saya para mahsiswa dan mahasiswi Sekolah Tinggi Manajemen Transpor (STMT) TRISAKTI serta pembaca lainnya dapat mengetahui permasalahn yang ada dalam makalah tersebut.
Pada kesempatan ini kami juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada teman sekalian,atas partisipasinya dalam membantu kami dalam menyelesaikan tugas makalah ini.
Kami juga menyadari keterbatasan-keterbatasan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, kami sangat menghargai tanggapan-tanggapan dan saran-saran serta kritik-kritik membangun dari para pembaca untuk perbaikan dan penyempurnaan makalah ini.

Jakarta, 18 January 2010

Penulis


BAB 1
PENDAHULUAN
suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian serta posisi yang ada pada suatu organisasi atau perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasional untuk mencapai tujuan. Struktur Organisasi menggambarkan dengan jelas pemisahan kegiatan pekerjaan antara yang satu dengan yang lain dan bagaimana hubungan aktivitas dan fungsi dibatasi. Dalam struktur organisasi yang baik harus menjelaskan hubungan wewenang siapa melapor kepada siapa.
Struktur organisasi sebuah perusahaan dapat diilustrasikan dalam suatu bagan organisasi, yang menunjukan interaksi diantara posisi-posisi jabatan. Bagan ini menunjukan rantai komando (chain of command) yaitu mengidentifikasikan posisi-posisi jabatan dimana masing-masing jenis karyawan harus memberikan laporannya. Rantai komando juga menunjukan siapa yang bertanggung jawab atas beragam aktifitas. Karena karyawan sering menemukan masalah yang membutuhkan komunikasi dengan divisi-divisi lain, mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas setiap jenis pekerjaan akan sangat membantu.
Presiden sebagai direktur utama memiliki tanggung jawab tertinggi atas keberhasilan perusahaan. Direktur bertugas mengoordinasikan seluruh divisi dan memberikan arah bagi bisnis perusahaan. Rantai komando dapat digunakan untuk memastikan bahwa para manager telah membuat keputusan yang akan memaksimalkan nilai perusahaan dan bukan memenuhi kepentingan mereka sendiri.
Bentuk-bentuk organisasi bermacam-macam, yaitu : Organisasi Garis, Garis dan Staff, Fungsional, Panitia. Perusahaan yang berbeda akan mengunakan struktur organisasi yang berbeda pula. Struktur organisasi tertentu yang digunakan sebuah perusahaan dapat dipengaruhi oleh karakteristik-karakteristik tertentu dari bisnisnya dan dapat memengaruhi kinerja perusahaan. Struktur organisasi dapat bervariasi diantara bermacam perusahaan menurut : Rentang kendalinya, ketinggian organisasional, penggunaan posisi lini versus posisi staff.

LATAR BELAKANG TERBENTUK PT. PERTAMINA
• Sebelumnya bernama PT. Pertajaya Lubrindo dengan bidang usaha Pelumas, berdiri sejak 17 Juni 1997.
• Sejak 1 September 2005 berganti nama menjadi PT. Pertamina Retail dengan bidang usaha SPBU
• PT. Pertamina Retail mengelola / mengoperasikan SPBU terhitung mulai bulan Maret 2006.
• Merupakan salah satu tema fundamental program transformasi Pertamina dan sejalan dengan prinsip “Clean” yang merupakan bagian aspirasi transformasi 4C :
- Confident (percaya diri)
- Clean (bersih)
- Customer Focused (fokus kepada pelanggan)
- Competitive (berdaya saing)
• Tuntutan eksternal untuk terciptanya bisnis yang transparan dan bersih
o Usaha pemerintah untuk memberantas KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme)
o dKesadaran masyarakat akan pentingnya bisnis yang transparan dan bersih.
o Penanganan kasus-kasus korupsi yang semakin intensif (nasional dan internasional).
o Bisnis yang bersih akan meningkatkan daya saing dan kepercayaan stakeholder.
Konvensi PBB mengenai Pemberantasan Korupsi ; 140 negara telah menandatangani dan 48 negara telah meratifikasi.
B. Perumusan Masalah

1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang masalah maka dapat dirumuskan masalah yang akan diangkat dalam penulisan ini adalah sebagai berikut :
a) Dampak yang terjadi jika reefer container mengalami kerusakan;
b) Jumlah penggunaan reefer container pada PT. PELNI;
c) Biaya penggunaan reefer container pada PT. PELNI;
d) Jenis produk yang diangkut dengan menggunakan reefer container;
e) Jumlah produk yang diangkut dengan menggunakan reefer container.

2. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, maka penulis membatasi masalah hanya pada Reefer Containerized pada 10 kapal penumpang selama tahun 2009.

3. Pokok Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang masalah maka dapat dirumuskan masalah yang akan diangkat dalam penulisan ini adalah sebagai berikut :
a) Bagaimana persiapan sebelum reefer container digunakan ?
b) Bagaimana cara penggunaan reefer container pada PT. PELNI ?
c) Hambatan – hambatan apa sajakah yang dihadapi sehubungan dengan penggunaan reefer container ?
d) Bagaimana analisa peranan reefer container dalam menjamin keutuhan produk ?

TUJUAN PERUSAHAAN
• Meningkatkan nilai perusahaan melalui kegiatan pengelolaan SPBU Pertamina dan kerja sama SPBU serta pengembangan-pengembangan usaha retail lainnya secara profesional dengan memperhatikan kaidah-kaidah bisnis yang berlaku.
• Mewujudkan tanggung jawab perusahaan kepada stakeholder yang ditandai dengan meningkatnya deviden yang diberikan dari realisasi rencana-rencana usaha.
• Memberikan image stakeholder yang baik di mata masyarakat konsumen melalui kualitas pelayanan dan produk.
• Memberikan pelayanan berkualitas melalui Sistem Informasi Manajemen dan Efektivitas Implementasinya dalam menciptakan nilai tambah berupa informasi yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh pihak yang berkepentingan kepada Perusahaan.
• Meningkatkan produktivitas dan komitmen personil yang dapat diukur melalui Kinerja Keuangan, Kinerja Operasional, dan Kinerja Administrasi.





BAB II
PEMBAHASAN

Struktur Organisasi PT. Pertamina
Bentuk struktur organisasi yang digunakan oleh PT. Pertamina Segara mengunakan struktur organisasi Garis dan Staff. Bentuk organisasi ini biasanya dipakai oleh organisasi yang besar, kompleks, daerah kerjanya luas, dan jumlah karyawannya cukup banyak. Dalam organisai jenis ini hampir sama dengan struktur organisasi garis, hanya didalamnya tuga-tugas seorang pimpinan memerlukan bantuan staff ahli yang adalah orang ahli dalam bidang tertentu sebagai penasehat yang memberikan konsultasi mengenai kebijaksanaan dan langkah tertentu atau staff ahli yang berfungsi sebagai pembantu pimpinan perusahaan dalam manajemen, dan staff ahli tidak memiliki kekuasaan dalam pemberian perintah.
Organisasi jenis ini merupakan kombinasi yang diambil dari keuntungan-keuntungan adanya pengawasan secara langsung dan spesialisasi dalam perusahaan. Kepala bagian pemasaran bertanggung jawab dan bertugas atas kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pemasaran, termasuk penjualan barang kepada konsumen dan pemakai industri. Untuk melaksanakan tanggung jawabnya, ia dapat mendelegasikan kekuasaan pada manager penjualan umum terus kebawah sampai pada karyawan penjulan. Hubungan antara pimpinan dengan bawahan langsung seperti ini dinamakan Hubungan Garis.
Struktur organisasi bertujuan untuk membantu dalam pengaturan dan
pengarahan segala aktifitas serta strategi yang dilakukan dalam usaha organisasi untuk mencapai tujuan perusahaan. Sehingga diharapkan aktifitas-aktifitas tersebut dapat terorganisir dengan baik dan konsisten sesuai dengan tujuan dan sasaran perusahaan.
Setiap badan usaha pasti memerlukan struktur organisasi yang baik agar system mekanisme lalulintas perusahaan menjadi jelas dan dapat berjalan dengan lancar. Struktur organisasi PT. Pertamina dapat dilihat pada gambar berikut ini.


Kebaikannya:
 Pimpinan lebih leluasa dalam memberikan saran terhadap tugas-tugas di luar bagiannya.
 Staff dapat membantu untuk mengatasi berbagai persoalan sehingga akan memperingan pekerjaan dan efisiensi kerja.
 Staff dapat mendidik para petugas.
 Adanya kesatuan dalam pimpinan sehingga menciptakan aliran kekuasaan dengan jelas.
 Keputusan yang di ambil akan lebih cepat dan baik dengan adanya staff ahli.
 Penempatan karyawan dapat dilakukan dengan lebih cepat.
 Hanya ada satu pimpinan atau komando yang ditaati.
 Prinsip the right man in the right place lebih mudah dilaksanakan.
 Spesialisasi yang beranekragam diperlukan dan dipergunakan secara maksimal
Keburukannya:
 Hubungan antara atasan dengan para bawahan tidak bersifat langsung. Pimpinan dan para karyawan tidak semuanya saling kenal-mengenal.
 Pimpinan lini sering mengabaikan nasehat atau saran dari staf.
 Pimpinan staf sering mengabaikan gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh pimpinan lini.
 Adanya kemungkinan pimpinan staff melampaui’batas kewenangannya.
 Perintah lini dan perintah staff sering membingungkan anggota organisasi karena kedua jenis hirarki sering tidak seirama dalam memandang sesuatu.
 Karyawan jadi lebih percaya kepada staff dari pada pimpinannya
 Koordinasi pekerjaan agak sulit diadakan kerena susunan yang lebih besar.

Solusinya:
Sebaiknya perusahaan yang mengunakan tipe struktur organisasi ini lebih menitik beratkan pada membina komunikasi yang baik sehingga memudahkan pengawasan pekerjaan serta mengoordinasikan setiap pekerjaan dari setiap departemen dan bukan hanya bekerja sendiri dalam menangani bagian tugasnya di divisinya masing-masing serta bekerja bersama-sama dan menyatukan misi serta visi perusahaan dalam mencapai tujuan yang efektif dan efisien.
STRUKTUR ORGANISASI PT. PERTAMINA RETAIL
Deskripsi Jabatan:
Setiap bagan dari struktur organisasi mempunyai tanggung jawab dan tugasnya masing-masing, yang harus dikerjakan dengan penuh tanggung jawab sehingga perusahaan dapat berkembang dengan baik.
Derajat kewenangan dan tanggung jawab yang berbeda dalam suatu organisasi ditunjukan sebagai berikut:
1. Direktur Utama
Bertanggung jawab untuk terus mengembangkan PT.Pertamina, bertugas untuk memimpin, mengoordinasi dan mengawasi penyelenggaraan kegiatan perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan.
2. Sekretaris Direksi
Bertanggung jawab pada pimpinan, membuat surat-surat yang diperlukan perusahaan.
3. SPI (Satuan Pengawa Internal)
Dalam bidang pengawasan, Direktur Utama dibantu oleh Inspektorat Perusahaan atau Satuan Pengawasan Internal (SPI) yang diangkat dan diberhentikan oleh Direktur Utama setelah mendapat persetujuan dari Kepala Daerah. SPI dipimpin oleh seorang Ketua yang kedudukannya setingkat Kepala Bagian, dalam pelaksanaan tugasnya SPI bertanggung jawab kepada Direktur Utama.
4. Bagian Peralatan Teknik
a. Membuat program kerja tentang perawatan/peralatan teknik.
b. Meneliti dan menilai peralatan tehnik sesuai dengan keperluan perusahaan.
c. Membuat laporan kegiatan Bagian perawatan/Peralatan Teknik
d. Mengusulkan tentang pemeliharaan/perbaikan bangunan umum
e. Melaksanakan tugas-tugas lain yang di berikan oleh atasan.
5. Bagian Umum mempunyai tugas :
a. Mengendalikan dan menyelenggarakan kegiatan dibidang administrasi, kepegawaian/personalia serta kesekretariatan.
b. Menyelenggarakan kegiatan dibidang kerumah-tanggaan, peralatan kantor dan perundang-undangan.
c. Mengurus perbekalan material dan peralatan tehnik.
d. Mengadakan pembelian barang-barang yang diperlukan perusahaan.
e. Membuat laporan kegiatan Bagian Umum
f. Memberikan informasi kepada masyarakat yang berhubungan dengan kegiatan Perusahaan
g. Dalam melaksanakan tugasnya, bertanggung jawab kepada Direktur Umum.
6. Bagian Keuangan mempunyai tugas:
a. Mengendalikan kegiatan-kegiatan Bidang Keuangan.
b. Mengendalikan program dan pendapatan pengeluaran keuangan.
c. Merencanakan dan mengendalikan sumber-sumber pendapatan serta pembelanjaan dan kekayaan perusahaan.
d. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan.
e. Dalam menjalankan tugasnya bertanggung jawab kepada Direktur Umum.
7. Directur Operasi
Mengembangkan dan memelihara operasi pembuatan rencana bisnis untuk mencakup semua program requirements, labor hours, cycle, production costs, and image. persyaratan, jam kerja, siklus, biaya produksi, dan gambar.
Provides input to the development of product strategy and research and development of Memberikan masukan untuk pengembangan strategi produk dan penelitian dan pengembangan new and emerging products. baru dan produk-produk yang muncul.
Establishes production and quality control standards, develops budget and cost controls, Menetapkan pengawasan mutu produksi dan standar, mengembangkan anggaran dan kontrol biaya, and obtains data regarding types, quantities, specifications, and delivery dates of products dan memperoleh data mengenai jenis, jumlah, spesifikasi, dan tanggal pengiriman produk ordered, memerintahkan.
Provides guidance to the development of a manufacturing process plan, including Menyediakan bimbingan untuk pengembangan suatu rencana proses manufaktur, termasuk personnel requirements, material needs, subcontract requirements, facility needs, and persyaratan personil, kebutuhan material, subkontrak persyaratan, fasilitas kebutuhan, dan tooling and equipment needs. tooling dan peralatan kebutuhan.
Ensures all established costs, quality, and delivery commitments are met. Memastikan semua biaya ditetapkan, kualitas, dan komitmen pengiriman terpenuhi.
Coordinates manufacturing activities with all other functions of the organization and Kegiatan manufaktur berkoordinasi dengan semua fungsi organisasi dan
suppliers to obtain optimum production and utilization of human resources, machines, and pemasok untuk mendapatkan produksi yang optimal dan pemanfaatan sumber daya manusia, mesin, dan equipment, peralatan.
Reviews production and operating reports and directs the resolution of operational, Tinjauan produksi dan laporan operasi dan mengarahkan penyelesaian operasional,
manufacturing, and maintenance problems to ensure minimum costs and prevent manufaktur, dan masalah perawatan untuk memastikan biaya minimum dan mencegah operational delays. operasional penundaan.
Performs administrative activities associated with the effective management of shop Melakukan kegiatan administratif yang berkaitan dengan manajemen yang efektif toko operations, including compiling, storing, and retrieving production data for reports. operasi, termasuk mengumpulkan, menyimpan, dan mengambil data produksi untuk laporan.
Determines responsibilities of assigned organization and staff positions to accomplish Menentukan tanggung jawab organisasi dan staf yang ditugaskan posisi untuk mencapai business objectives. tujuan bisnis.


Deskripsi Wewenang
Wewenang dalam perusahaan ini merupakan wewenang dimana atasan melakukannya atas bawahannya langsung. Wewenang ini dimiliki oleh manager lini yang mengambil keputusan untuk mencapai organisasi secara langsung. Dalam bagan organisasi ini, weweanang lini digambarkan dari direktur utama sampai ke manajement tingkat bawah. Terdapat perbedaan yang sangat tampak pada wewenang daro organisasi ini, yaitu staff mempunyai fokus pada pemberian jasa dan nasehat kepada manager, sedangkan manager mengambil keputusan yang ditujukan untuk mencapai tujuan organisasi secara langsung.

BAB III
KESIMPULAN

Hasil analisa menunjukan bahwa PT. Wiratimur Segara dengan mengunakan Struktur Organisasi Garis Dan staff menimbulkan hubungan kepemimpinan dengan kinerja karyawan mempunyai hubungan baik dan erat dalam membentuk perilaku karyawan dalam lingkungan kerja.
Dan tipe ini membentuk kepemimpinan yang cenderung pada tipe consideration yaitu pemimpin akan mengijinkan bawahan untuk melakukan pekerjaan dengan cara yang mereka anggap baik namun tetap objektif dalam memantau hasil kerja karyawan. Dan sering memberikan umpan balik atas hasil pekerjaan yang dilakukan dapat meningkatkan kinerja karyawan, yaitu hasil kerja dengan standart kualitas perusahaan, hasil yang dicapai memenuhi target, tidak membuang banyak waktu dalam menyelesaikan pekerjaan.
Pada tipe organisasi ini pemimpin selalu memberikan perlakuan yang adil pada setiap karyawan yang dapat meningkatkan kinerja karyawan, yaitu komunikasi dapat terjalin dengan baik diantara karyawan. Manager memberikan pengarahan yang jelas mengenai pekerjaan, kerja sama antar karyawan dalam melaksanakan suatu pekerjaan sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai secara maksimal.



DAFTAR PUSTAKA
M.Manullang. 2001. Dasar-dasar Manajemen. Medan : Gadjah Mada University Press.
Amirullah, Haris Budiyono. 2004. Pengantar Manajemen. Malang : Graha Ilmu.
Jeff Madura. 2007. Pengantar Bisnis Edisi 4. Jakarta : Salemba Empat.
T. Hani Handoko. 1986. Manajemen Edisi 2. Yogyakarta : BPFE-YOGYAKARTA.
Kosasih Engkos, M. Mar.E., S.E., M.M. MANAJEMEN PERUSAHAAN PELAYARAN. JAKARTA : PT Raja Grafindo Persada

http://www.google.com

” PERANAN PENGGUNAAN REEFER CONTAINER DALAM ANGKUTAN BARANG UNTUK MENJAMIN KEUTUHAN PRODUK PADA PT.PELNI JAKARTA TAHUN 2009 “

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN TRANSPOR TRISAKTI
JAKARTA
2009 / 2010

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan perekonomian di dunia secara global mendorong setiap negara untuk berusaha menghasilkan berbagai produk baik berupa barang dan jasa dengan kualitas yang tinggi. Sejalan dengan perkembangan tersebut setiap negara mulai memacu perkembangan dunia usahanya dengan lebih agresif dan penuh perhitungan agar dapat mengantisipasi dan mengamankan baik arus barang yang masuk ke negaranya maupun barang yang dieksport keluar dari negaranya mempunyai kualitas dan harga yang terjangkau. Globalisasi pada dasarnya merupakan terobosan dunia dalam hal perdagangan dimana batas wilayah masing – masing negara secara hukum tidak lagi mempunyai kendala – kendala, sehingga pengusaha dari suatu negara bebas memasuki suatu negara lain untuk melakukan transaksi dan perdagangan.
Untuk menerapkan keadaan globalisasi ini maka setiap kawasan bermunculan pakta – pakta ekonomi antara lain Asean Free Trade Area (AFTA), North American Free Trade Area (NAFTA). Dikawasan Amerika, Asia dan negara–negara Pasifik, ialah Asean Pasific Economic Cooperation (APEC) yang melingkupi puluhan negara dikawasan tersebut. Dengan demikian semakin mengglobal dunia dalam bidang ekonomi dan perdagangan maka mendorong timbulnya kawasan – kawasan yang telah berpacu untuk mempersiapkan diri, terutama barang dan jasa. Negara kita Indonesia yang berada dikawasan AFTA yang mempunyai kedudukan geografis yang strategis dipintu gerbang perdagangan APEC sangat dituntut untuk mempersiapkan diri baik melalui infrastruktur perdagangan seperti meratifikasi berbagai peraturan perdagangan Internasional, penciptaan iklim usaha yang kondusif serta pengkondisian sistem persaingan yang terbuka dan adil, maupun pembangunan suprastruktur industri seperti pembangunan berbagai macam pabrik, ransangan investasi baik yang bersifat PMA maupun PMDN.

Dengan adanya daerah potensial di Indonesia yang dapat menghasilkan berbagai komoditi alam maka Indonesia mempunyai potensi untuk dapat berperan sebagai pemasok komoditi – komoditi tersebut ke berbagai negara dan kawasan. Untuk itu diperlukan sarana dan prasarana transportasi yang mampu memindahkan komoditi – komoditi ini dalam jumlah yang besar sekaligus dapat menjangkau konsumen – konsumen yang membutuhkan komoditi – komoditi ini dengan aman, utuh dan segar, sarana dan prasarana transportasi yang mampu memindahkan barang dalam jumlah yang besar adalah sarana transportasi laut, baik yang bersifat konvensional, maupun yang bersifat modern. Kapal – kapal yang bersifat konvensional lebih banyak mengangkut muatan dengan kemasan biasa sedangkan kapal – kapal modern lebih banyak mengangkut muatan di dalam suatu kemasan yang cukup aman yaitu peti kemas. Peti kemas yang diangkut oleh kapal modern ini, disamping peti kemas yang memuat dry cargo, dapat juga memuat peti kemas reefer. Peti kemas dry cargo dapat mengangkut barang – barang hasil produksi seperi Elektronik, Otomotif, Garmen, Sepatu dan lain sebagainya sedangkan yang reefer cargo diarahkan untuk mengangkut hasil – hasil alam yang memiliki tingkat keawetan yang rendah sehingga mudah hancur, dan mudah membusuk, seperti ikan, udang, daging, sayur – sayuran, buah – buahan dan lain sebagainya. Semua ini akan membawa dampak kepada cara penanganan dan pengolahan khususnya untuk reefer container.Penanganannya membutuhkan alat pendukung berupa generator atau genset (Pembangkit Tenaga Listrik), sehingga barang – barang yang dimasukkan ke dalam reefer container tersebut berada pada suhu minimum agar terjamin kesegaran dan keawetannya. PT. PELNI adalah salah satu perusahaan pelayaran yang menangani masalah ini untuk antar pulau (Interinsuler) maupun yang bersifat Eksport (Ocean Going) dengan demikian akan menjadi menarik untuk dikaji dan diteliti lebih jauh tentang pengelolaan petikemas dengan alat pendingin (reefer container) agar mutu produk eksport dapat terjamin sampai ke tangan pelanggan yang membutuhkan. Bertitik tolak dari uraian di atas maka judul yang penulis pilih adalah : ”PERANAN PENGGUNAAN REEFER CONTAINER DALAM ANGKUTAN BARANG UNTUK MENJAMIN KEUTUHAN PRODUK PADA PT. PELNI JAKARTA TAHUN 2009“.



B. Perumusan Masalah

1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang masalah maka dapat dirumuskan masalah yang akan diangkat dalam penulisan ini adalah sebagai berikut :
a) Dampak yang terjadi jika reefer container mengalami kerusakan;
b) Jumlah penggunaan reefer container pada PT. PELNI;
c) Biaya penggunaan reefer container pada PT. PELNI;
d) Jenis produk yang diangkut dengan menggunakan reefer container;
e) Jumlah produk yang diangkut dengan menggunakan reefer container.

2. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, maka penulis membatasi masalah hanya pada Reefer Containerized pada 10 kapal penumpang selama tahun 2009.

3. Pokok Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang masalah maka dapat dirumuskan masalah yang akan diangkat dalam penulisan ini adalah sebagai berikut :
a) Bagaimana persiapan sebelum reefer container digunakan ?
b) Bagaimana cara penggunaan reefer container pada PT. PELNI ?
c) Hambatan – hambatan apa sajakah yang dihadapi sehubungan dengan penggunaan reefer container ?
d) Bagaimana analisa peranan reefer container dalam menjamin keutuhan produk ?




C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
a) Untuk dapat mengetahui dan sekaligus memperoleh gambaran tentang persiapan reefer container sebelum digunakan oleh PT. PELNI.
b) Untuk mengetahui cara penggunaan reefer container oleh PT. PELNI untuk menjamin keutuhan produk.
c) Untuk dapat mengetahui sejauh mana peranan antara penggunaan dan pengelolaan reefer container dengan keawetan produk.
d) Untuk dapat mengetahui hambatan – hambatan yang dihadapi oleh PT. PELNI.

2. Manfaat Penelitian
a) Bagi Penulis
Diharapkan untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta memahami tentang peranan penggunaan reefer container dalam angkutan barang untuk menjamin keutuhan produk pada PT. PELNI . Dan juga merupakan salah satu syarat kelulusan program S1 di Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti.
b) Bagi Perusahaan
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk menganalisa masalah yang dihadapi PT. PELNI serta untuk mencari pemecahannya dan sebagai bahan pertimbangan dan evaluasi didalam melaksanakan kegiatan terutama reefer container agar kepuasan pelanggan dapat terpenuhi.
c) Bagi Lembaga STMT TRISAKTI
Sebagai bahan informasi tambahan yang berkaitan dengan penggunaan reefer container untuk menjamin keutuhan produk pada PT. PELNI, dan sebagai data dokumentasi pada perpustakaan.

D. Metedologi Penelitian

1. Tekhnik Pengumpulan Data
Skripsi dapat diartikan sebagai hasil akhir dari suatu penyelidikan, peninjauan interpretasi yang berakhir dengan suatu penilaian (analisis). Dalam menulis skripsi penulis melakukan pengumpulan data serta keterangan – keterangan yang dibutuhkan untuk pembahasan maka penulis mencari data – data yang nyata dalam melakukan riset.
Perlu diketahui riset disini adalah penyelidikan dari suatu disiplin ilmu untuk memperoleh fakta – fakta atau prinsip dengan sabar, hati – hati serta sistematis. Definisi ini yaitu riset merupakan suatu kegiatan pengumpulan,pengolahan,penyajian dan analisis data yang dilakukan secara sistematis dan efisien untuk memecahkan suatu persoalan. Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan dua macam metode pengumpulan data yaitu :
a) Riset Perpustakaan (Library Research)
Riset Perpustakaan (Library Research) yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara membaca atau mempelajari tulisan – tulisan yang berasal dari buku – buku karangan ilmiah, diktat, majalah – majalah, catatan perkuliahan serta sumber – sumber data lainnya yang berhubungan dengan container dan reefer container.
b) Penelitian Lapangan (Field Research)
Penelitian ini diperlukan untuk memperoleh data primer yang diperlukan melalui cara-cara sebagai berikut:
1) Interview (wawancara)
Teknik pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab guna meratifikasi secara langsung kepada pihak – pihak yang berhubungan dengan materi yang akan dibahas.
2) Observasi (pengamatan)
Teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan terhadap perusahaan yang menjadi objek penelitian.
2. Teknik Analisis Data
Teknik analisis Asosiatif yang akan digunakan penulis dalam rangka penelitian ini akan dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut :
a) Analisis Regresi Linier Sederhana
Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan proporsional antara variabel X (reefer container) terhadap variabel Y (Keutuhan produk) menurut (Prof. Dr. Sugiyono, 2003:237) adalah sebagai berikut :

Y = a + bX

Dimana :
X = Nilai tertentu dari variable bebas (Variable Independent), dalam hal ini adalah Reefer Container
Y = Nilai yang diukur atau dihitung pada variable tidak bebas (Variable Dependent), dalam hal ini adalah Keutuhan Produk
n = Banyaknya data
a = Konstanta
b = Koefisien regresi

Untuk menghitung nilai a dan b digunakan rumus sebagai berikut:
Analisis Koefisien Korelasi
Koefisien korelasi merupakan alat untuk mengetahui kuat tidaknya hubungan antara variable X dan variable Y. Adapun nilai koefisien korelasi (r) dapat dicari dengan rumus Prof. Dr. Sugiyono (2003 : 214) sebagai berikut
Dimana :
r = Koefisien korelasi
n = jumlah responden
X = independent variable (Reefer Container)
Y = dependent variable (Keutuhan Produk)

Dalam hal ini :
1) Jika r = 0 atau mendekati 0, maka hubungan antara kedua variabel sangat lemah atau tidak terdapat hubungan sama sekali.
2) Jika r = +1 atau mendekati 1, maka hubungan antara kedua variabel dikatakan positif dan sangat kuat.
3) Jika r = -1 atau mendekati –1, maka hubungan kedua variabel tersebut dikatakan sangat kuat namun negatif.
Besaran nilai r berada diantara -1 s/d +1 atau dapat ditulis :
r = -1< r < +1. Agar lebih jelas menginterprestasikan tingkat hubungan tersebut, maka dapat berpedoman pada ketentuan sebagaimana tertuang pada table :

Tabel
Pedoman untuk memberikan interpretasi
koefisien korelasi

Interval Korelasi Tingkat Hubungan

0,00 – 0,199 Sangat Rendah

0,20 – 0,399 Rendah

0,40 – 0,599 Sedang

0,60 – 0,799 Kuat

0,80 – 1,000 Sangat Kuat

Sumber Sugiono (2003 : 214)







E. HIPOTESIS
Pengguna reefer container dalam angkutan barang sangat diperlukan penanganan yang ekstra hati – hati agar produk utuh sampai tujuan. Karena produk yang diangkut mempunyai tingkat keawetan yang rendah apabila terjadi perubahan suhu, seperti ikan beku, buah – buahan, sayur – sayuran, daging dan lain – lain. Diduga mempunyai hubungan yang sangat kuat antara penggunaan reefer container dengan keutuhan produk yang diangkut.

F. SISTEMATIKA PENULISAN
Dalam sistematika penulisan skripsi ini, penulis membaginya dalam 5 (lima) bab. Pembagian ini dimaksudkan agar dapat mempermudah dalam memahami materi skripsi. Adapun bagian dari kelima bab tersebut yaitu sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam hal ini diuraikan beberapa hal mengenai Latar Belakang Masalah atau Alasan Pemilihan Judul. Perumusan masalah yang meliputi Identifikasi Masalah, Pembatasan Masalah dan Pokok Masalah. Tujuan dan Manfaat Penelitian, Metodologi Penelitian, serta Sistematika Penulisan skripsi ini.
BAB II : LANDASAN TEORI
Dalam ban ini diuraikan mengenai teori-teori yang berhubungan dengan pokok bahasan skripsi yang berhubungan dengan pokok bahasan skripsi yaitu dengan Pengertian peti kemas, pengertian angkutan, pengertian muatan dan diakhiri dengan pengertian produk.
BAB III : GAMBARAN UMUM PT. PELNI
Dalam bab ini menguraikan tentang gambaran umum PT. PELNI, yang meliputi Sejarah Singkat Perusahaan, Struktur Organisasi Perusahaan, Sistim Manajemen Perusahaan serta kegiatan usaha perusahaan dengan segala Fasilitas yang dimiliki oleh perusahaan.


BAB IV : ANALISIS DAN PEMBAHASAAN
Dalam bab ini menguraikan tentang bagaimana persiapan penggunaan reefer container di PT. PELNI, hambatan – hambatan yang dihadapi dan diakhiri dengan analisa peranan reefer container dalam rangka menjamin keutuhan produk.
BAB V : PENUTUP
Merupakan bab terakhir dari keseluruhan inti skripsi berupa Kesimpulan dan saran dari hasil analisa dan pembahasan Bab IV yang dianggap perlu bagi perusahaan dimasa yang akan datang.

Senin, 01 Februari 2010

Carilah Perkara yang di atas

16Karena itu jangalah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru atau hari sabat; 17 semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus. 18 janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikiran yang duniawi, 19 sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya.
20 Apabila kamu telah mati bersama-sama sengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah menaklukan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: 21jangan kamu jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini;22semunay itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. 23 Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri , menyiksa diri, tidak ada gunanya selain memuaskan hidup duniawi.
3 Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan kristus, carilah perkara yang diatas, dimana Kristus ada, duduk disebel;ah kanan Allah. 2Pikirkanlah perkara yang diatas, bukan yang di bumi. 3sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi dalam Kristus di dalam Allah. 4Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menayatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.
(Kolose 2: 16-23 dan Kolose 3: 1-4)